This blog still in the development stage, by Pascal Sapari

Smoga anda suka dengan gambar-gambar ini

Blog Masih Dalam Tahap Pengembangan :)

Smoga anda suka dengan gambar-gambar ini

Blog Masih Dalam Tahap Pengembangan :)

Smoga anda suka dengan gambar-gambar ini

Blog Masih Dalam Tahap Pengembangan :)

Smoga anda suka dengan gambar-gambar ini

Blog Masih Dalam Tahap Pengembangan :)

Smoga anda suka dengan gambar-gambar ini

Blog Masih Dalam Tahap Pengembangan :)

Sunday, 20 January 2013

Garfield

Ikan Memanjat Dengan Mulut

Biasanya memanjat hanya bisa dilakukan mahluk yang mempunyai kaki, bahkan tangan. Ternyata ada ikan yang bisa memanjat menggunakan mulutnya.

Ikan ini bernama  Gobi Nopoli Rock Climbing atau Sicyopterus stimpsoni. Para peneliti baru-baru ini mengumumkan hasil temuannya di Hawaii, Amerika Serikat. Ikan kecil ini diketahui mampu memanjat air terjun setinggi 100 meter dengan hanya menggunakan mulutnya.

 Beginilah bentuk si ikanGobi Nopoli Rock Climbing



Bagaimana caranya? Yakni dengan menghisapkan mulutnya ke permukaan batuan dan memindahkan badannya secara perlahan-lahan.

Menurut Richard Blob, Peneliti Evolusi Biomechanist dari Clemson University di South Carolina, ikan yang dapat tumbuh sepanjang 18 cm ini menggunakan kekuatan rahang untuk menempelkan mulutnya ke permukaan batu untuk mengikis makanan.

"Selain untuk makan, mulutnya digunakan juga untuk mendaki. Ini adalah salah satu bentuk evolusi perilaku dari seekor hewan saat mencari makanan," kata Blob.

Untuk membuktikan apakah ikan ini benar mendaki, para peneliti menangkap ikan Gobi Nopoli Rock Climbing dan menaruhnya di dalam akuarium. Mereka pun merekam kekuatan rahang ikan Gobi saat menempelkan mulutnya di sisi akurium dan memanjatnya untuk meraih makanan.

"Perilaku ini belum jelas tujuannya, apakah kegiatan makannya disesuaikan untuk mendaki, atau sebaliknya," tambah Blob lagi.

Saat ini para peneliti sedang mengumpulkan spesies ikan Gobi lain yang berasal dari Karibia untuk mengetahui urutan dari evolusi perilaku ekstrim ikan ini. Hasil dari penelitian ini telah dipublikasikan pada Jurnal Online Plus One pada tanggal 4 Januari lalu.

Omong-omong soal ikan yang bisa menghisap dan menempelkan mulutnya, kok terdengar seperti ikan sapu-sapu, ya? :-)






sumber:
viva

Manusia Bukan Penduduk Asli Bumi


Para ilmuwan menguak, manusia dan segala mahluk di dalamnya mungkin adalah pendatang di planet biru. Ini terkait dengan asal-usul kehidupan di Bumi. Para ilmuwan berteori, mikroba ekstraterresterial mungkin telah membawa kehidupan di Bumi, setelah menempuh perjalanan di luar angkasa selama jutaan tahun.

Teori tersebut berdasarkan kalkulasi yang menunjukkan, kemungkinan besar fragmen batuan dari sistem tata surya lain mendarat ke Bumi. Beberapa dari mereka bisa jadi mengandung mikroorganisme, demikian ditulis ahli dalam jurnal Astrobiology.
zazzle.com


Penelitian menunjukkan, mahluk sejenis kumbang yang dalam kondisi dormant alias tidak aktif tapi masih bernyawa, bisa selamat dalam perjalanan panjang ruang angkasa, meski berada dalam tingkat radiasi kosmik yang tinggi.

Tak hanya menuju bumi, mahluk hidup sederhana itu mungkin juga telah melakukan perjalanan dari Bumi ke planet lain di luar Tata Surya. Proses tersebut disebut sebagai lithopanspermia. Yang juga bisa berarti alam semesta dipenuhi kehidupan serupa di Bumi.

"Studi kami mengungkap lithopanspermia mungkin terjadi, ini mungkin makalah pertama yang  mendemonstrasikan soal itu," kata peneliti utama, Dr Edward Belbruno, dari Princeton University, Amerika Serikat. "Jika mekanisme ini benar, maka ia memiliki implikasi terhadap kehidupan di alam semesta secara keseluruhan. Itu bisa terjadi di manapun.

Erupsi gunung berapi dahsyat, tabrakan meteor, dan tubrukan antar benda langit membuat fragmen batuan dari sebuah planet terbang ke luar angkasa.

Diduga, saat saat Tata Surya masih muda, dan Matahari jauh lebih dekat dengan para tetangganya dibanding sekarang, sejumlah puing-puing bisa jadi dipertukarkan antar planet yang mengorbit ke bintang berbeda.

Puing itu melakukan perjalanan relatif lambat, memberi peluang untuk tertangkap oleh gravitasi planet di dekatnya.


Simulasi Teori

Untuk mengurai teori ini, para peneliti menggunakan program komputer untuk melakukan simulasi gugus bintang di mana Matahari lahir. Mereka menemukan, fragmen batu yang terlontar dari Tata Surya dan tetangga terdekatnya, dengan perbandingan antara lima sampai 12 dari 10.000 puing bisa ditangkap planet yang lain.

Selama periode 10 juta hingga 90 juta tahun, diperkirakan antara 100 triliun dan 30 kuadriliun  benda dengan bobot lebih dari 10 kilogram telah melaui proses transfer seperti ini.

cansars.blogspot.com


Ilmuwan menduga, organisme yang sampai di Bumi menemui sebuah lingkungan yang ditutupi air. Bumi memiliki air di permukaannya sejak Tata Surya baru berusia 288 juta tahun, membuat planet biru siap untuk menerima mikroba alien.

Penulis lain, Dr Amaya Moro-Martin, astronom dari  Centro de Astrobiologia, Spanyol mengatakan, studi mereka berhenti ke tahap di mana material padat yang terlontar dari suatu planet, tiba di planet kedua.

Sementara, dia menambahkan, proses lithopanspermia bisa terjadi jika material itu mendarat di planet di mana kehidupan bisa berkembang.

"Studi kami tidak membuktikan lithopanspermia benar-benar terjadi, tetapi menunjukkan bahwa itu adalah kemungkinan yang terbuka," kata dia.






Sumber: